![]() |
Ilustrasi ledakkan bom nuklir |
Mendengar kata bom atom atau nuklir, Hiroshima dan Nagasaki, akan otomatis muncul di benak sebagian besar manusia. Dua kota di Jepang itu menjadi sasaran pengeboman pasukan sekutu, yang dimotori Amerika Serikat, pada 1945 dan langsung mengakhiri Perang Dunia II.
Little Boy, yang dijatuhkan di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, dan Fat Man di Nagasaki tiga hari kemudian, meluluhlantakkan kedua kota tersebut dan merenggut banyak korban jiwa. Baik yang meninggal saat bom dijatuhkan maupun yang wafat akibat radiasi bertahun-tahun kemudian.
Tidak ada angka pasti jumlah korban di kedua kota karena begitu kacaunya keadaan usai pemboman, tetapi diperkirakan lebih dari 200.000 jiwa melayang. Efek radiasi nuklirnya pun dirasakan hingga bertahun-tahun kemudian.
Namun, tahukah Anda bahwa kedua bom itu bukanlah bom nuklir terbesar yang pernah diledakkan manusia?
Gelar itu jatuh kepada bom buatan Uni Soviet (saat ini disebut Rusia) bernama Tsar Bomba, bahasa Rusia yang berarti "kaisar segala bom".
Tepat 55 tahun lalu, 30 Oktober 1961, Uni Soviet memutuskan untuk menguji kemampuan bom nuklir itu dengan meledakkannya di Pulau Novaya Zemlya, Laut Arktik, di bagian utara negara tersebut.
Tsar Bomba dijatuhkan dari ketinggian 10,5 km dan diledakkan saat mencapai ketinggian 4 km dari permukaan tanah.
Hasilnya sungguh mencengangkan.
![]() |
Tangkapan layar perbandingan ketinggian ledakan bom nuklir yang pernah tercatat |
Ledakan bom nuklir dengan nama resmi AN602 tersebut menciptakan jamur api setinggi 64 kilometer dan terlihat hingga jarak 2.000 km. Pulau Novaya Zemlya menjadi rata karena bebatuan mencair, begitupula kota Severny, yang sudah dikosongkan dan berjarak hanya 55 km dari pusat ledakan.
Dahsyatnya daya ledak juga hampir merusak pesawat pembom Tupolev TU-95 yang membawanya dan dipiloti oleh Mayor Andrei Durnovtsev.
Ionisasi dari ledakan tersebut menyebabkan gangguan radio komunikasi selama beberapa jam. Tak hanya itu, dilaporkan banyak jendela kaca gedung di Norwegia dan Finlandia, yang berjarak 900 km, pecah karenanya.
Daya ledak bom seberat 27 ton itu mencapai 50 megaton atau 3.300 kali lebih dahsyat ketimbang Little Boy, bahkan masih 1.400 kali lebih besar dibandingkan gabungan Little Boy dan Fat Man.
Gelombang kejut yang dihasilkan Tsar Bomba dikabarkan bergerak mengelilingi Bumi sebanyak tiga kali.
15 pekan membuat Tsar Bomba
Keberadaan Tsar Bomba berawal pada Juli 1961, ketika pemimpin Uni Soviet saat itu, Nikita Khrushchev, memerintahkan agar militer dan para ahli nuklir di negara itu segera membuat bom dengan daya ledak besar.
Khrushchev rupanya terpancing oleh tindakan Amerika Serikat yang menguji Castle Bravo, bom nuklir berkekuatan 15 megaton yang diledakkan di Bikini Atoll, Kepulauan Marshall pada 1 Maret 1954.
Saat itu, menurut catatan Gizmodo (23/1/2013), bom terbesar yang dimiliki Rusia adalah RDS-37 yang "hanya" berkekuatan 3 megaton.
Tak ada yang berani menentang dan mengabaikan titah Khrushchev, yang saat itu juga menjabat sekretaris Partai Komunis Uni Soviet. Walaupun itu berarti Soviet melanggar perjanjian moratorium tes nuklir dengan AS dan Inggris Raya yang sudah disepakati sejak 1958.
Singkat cerita, sebuah tim yang terdiri dari empat ilmuwan --Victor Adamskii, Yuri Babaev, Yuri Smirnov, dan Yuri Trutnev-- lalu merancang dan membangun sebuah bom dengan panjang 7,3 meter dengan perangkat termonuklir tiga-tahap, hanya dalam waktu 15 pekan.
Awalnya mereka ingin menguji bom berkekuatan 100 megaton, tetapi tidak ada pesawat pembom milik Soviet yang mampu mengangkutnya karena terlalu berat. Akhirnya diputuskan untuk mengurangi hingga 50 megaton, itupun baru bisa diangkut setelah pintu bagian bawah pesawat TU-95 dicopot.
Beberapa saat sebelum tes dilakukan, pemerintah Uni Soviet memutuskan untuk mengubah tamper (bahan padat pengurung reaksi fisi) pada bagian kedua dan ketiga bom itu dari uranium menjadi timah sehingga reaksi nuklir tidak mencapai daerah berpopulasi di Uni Soviet.
Tamper dari timah itu diklaim mengurangi daya ledaknya hingga 50 persen dan menurunkan radiasi hingga 97 persen. Akan tetapi klaim pemerintah Uni Soviet tersebut masih menjadi bahan perdebatan di kalangan ilmuwan.
Untungnya bagi umat manusia, Soviet hanya memiliki sebuah Tsar Bomba dan dua tahun setelah tes tersebut, pada 5 Agustus 1963, Uni Soviet, AS, dan Inggris menandatangani Perjanjian Larangan Tes Parsial (PTBT) di Moskow.
![]() |
Radius ledakan dari Tsar Bomba, lebih luas daripada kota Paris |
Para penandatangan perjanjian itu bersepakat untuk tidak melakukan tes bom nuklir di atmosfer, luar angkasa, maupun dalam air. Tes di bawah tanah masih diperbolehkan dalam batas-batas tertentu.
Dari semua negara yang memiliki senjata nuklir, hingga saat ini baru Afrika Selatan yang membongkar dan menghancurkan senjata nuklir yang mereka miliki.
Afrika Selatan sebelumnya memiliki enam senjata nuklir. Namun, pemerintah pasca-apartheid membongkar keenamnya pada 1993.
Sumber : beritagar.id
---end---
0 Response to "Mengenang Tsar Bomba, Bom Nuklir Terbesar yg Pernah di Ledakkan"
Post a Comment